crying=purifying

Saat kubilang ‘sometimes crying can be so fun’… It wasn’t a joke.

Dahulu, saat bahuku masih sempit dan rapuh, aku selalu butuh such a crying time. It was a time when I was just being alone, letting my tears dropped before they dried and left such a sign on my face. Sedikit berasa pusing juga sih setelahnya. Dan senut2 lemah di kedua mata yg jadi bengep… >_<

Tapi plong, Sodara2…! Mungkin karena di sela2 tangisan itu aku juga menyuarakan beban hatiku.

Dan yang paling terasa usai ritual mewek tsb adalah… sensasi kelemahan, kepasrahan… n kemudian jd nyadar seratus persen akan keterbatasan diri sebagai seorang HAMBA. Jadi ringan gitu lho. Semua beban yg tadinya terasa begitu menghimpit, menuntut… sedikit demi sedikit menguap oleh perasaan tertemani dan terlindungi. Doesn’t it fun? DOESN’T IT FUN?

Menangis, sebenarnya, adalah pertanda bahwa hati kita masih cukup peka. Terlalu ngotot dan merasa sangat kuat, kadang2 membuat kepekaan itu berkarat.

Kadang… kita lupa bahwa diri kita ini sebenarnya adalah ‘sesuatu yang diciptakan dengan suatu tujuan’. Gampangnya, hidup ini ibarat game. Ada beberapa level yang harus kita selesaikan, ada jumlah point tertentu yang harus kita kumpulkan, sebelum kita dianggap layak untuk disebut pemenang. Semua hal di luar itu hanyalah bonus, yang kadang bisa menambah nilai, tp kadang mengurangi.

Semestinya kita tetap pada jalur utamanya. Main, sempurnakan levelnya, raih highscore-nya, dan menang! Manusia itu cuma begitu. Dan menangis, mampu mengembalikan kita pada posisi itu. Lemah, terbatas, dibawah kontrol.

Hei! Apakah ini ajakan untuk menyerah?

Wah, sama sekali bukan. Yang paling penting dari semuanya, ketika kita mulai nyadar tentang kelemahan kita, lalu kita merasa butuh pengayoman dari Yang Maha Kuat, dan kita cukup yakin bahwa Dia benar2 akan mendekati kita melebihi usaha pendekatan yang kita lakukan, hasilnya adalah lahirnya sebuah kekuatan baru. Kekuatan yang tidak sombong apa lagi kosong, melainkan kekuatan yang bertopang pada sebuah keyakinan.

Jadi ketika nurani mendesakmu untuk menangis, turutilah. Kunci dirimu di kamar, toilet, atau mana saja yang memberimu privasi, lalu dengarkanlah… apa yg hendak dikatakan nurani padamu. Ya, memang… kadangkala desakan untuk menangis itu adalah cara nurani untuk menarik perhatian kita. Mungkin sudah cukup lama kita tidak mendengarkannya?

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s